New

Istilah Sepak Bola yang Sering Salah Dipahami

Gambar
  Istilah Sepak Bola yang Sering Salah Dipahami (Panduan Pemula) Menonton sepak bola terasa seru, tetapi bagi pemula, komentar pertandingan sering dipenuhi istilah yang membingungkan. Bahkan penonton yang sudah bertahun-tahun mengikuti liga pun kadang salah mengartikan beberapa istilah dasar. Artikel ini membahas istilah yang paling sering disalahpahami, lengkap dengan penjelasan yang mudah dicerna. 1. Offside Salah kaprah: "Pemain offside kalau berdiri di depan bek lawan." Yang benar: Posisi di depan lawan saja tidak otomatis offside. Seorang pemain dianggap offside jika, pada saat bola dioper oleh rekan setimnya , bagian tubuhnya yang bisa mencetak gol berada lebih dekat ke garis gawang lawan dibanding bola dan pemain bertahan kedua terakhir lawan. Pemain juga tidak offside jika berada di area permainannya sendiri, atau ketika menerima bola langsung dari tendangan gawang, lemparan ke dalam, atau tendangan sudut. Hal penting lainnya: offside baru dihukum bila pemain t...

Perjalanan Como 1907 Bersama Djarum Group hingga Liga Champions

 


COMO – Perjalanan Como 1907 menjadi salah satu kisah paling menarik dalam sepak bola Italia. Klub yang sempat mengalami kesulitan finansial itu kini berhasil menembus persaingan elite Eropa berkat pengelolaan jangka panjang, investasi, dan sentuhan pelatih Cesc Fabregas.

Kesuksesan Como juga menarik perhatian publik Indonesia. Pasalnya, klub yang bermarkas di dekat Danau Como tersebut berada di bawah kepemilikan keluarga Hartono melalui Djarum Group sejak 2019.

Dalam beberapa tahun, Como mengalami perubahan besar. Mereka membangun kembali fondasi klub, memperkuat skuad, dan perlahan naik ke level yang lebih tinggi hingga akhirnya mengamankan tiket Liga Champions musim 2026/2027. 

Sebelum menjadi sorotan, Como bukanlah klub yang rutin bersaing memperebutkan posisi atas di Italia. Mereka sempat mengalami kebangkrutan dan harus berjuang dari kompetisi kasta bawah.

Kondisi tersebut membuat Como membutuhkan lebih dari sekadar mendatangkan pemain baru. Klub ini harus membenahi organisasi, fasilitas latihan, serta sistem pengembangan pemain agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Setelah diambil alih keluarga Hartono pada 2019, Como mulai menjalani proses pembangunan secara bertahap. Dennis Wise menjadi salah satu sosok penting dalam pembenahan operasional klub pada fase awal proyek tersebut.

Hasilnya tidak datang secara instan. Como harus melewati sejumlah tahapan sebelum akhirnya kembali ke Serie B pada 2021 dan kemudian promosi ke Serie A pada 2024. 


Salah satu titik penting dalam perjalanan Como adalah kehadiran Cesc Fabregas. Mantan gelandang Barcelona, Arsenal, dan Chelsea itu bergabung sebagai pemain pada 2022 sebelum beralih ke dunia kepelatihan.

Fabregas kemudian dipercaya menangani tim utama. Ia membawa pendekatan permainan yang menekankan penguasaan bola, tekanan kepada lawan, dan keberanian membangun serangan dari bawah.

Perkembangan Como terlihat ketika mereka finis di peringkat ke-10 Serie A pada musim 2024/2025. Setahun kemudian, prestasi mereka meningkat tajam dengan menempati posisi keempat klasemen akhir musim 2025/2026.

Pencapaian tersebut mengantarkan Como ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. 

Pembangunan dilakukan melalui pembenahan manajemen, perekrutan pemain, pengembangan fasilitas, dan upaya memperkuat identitas klub.

Como juga memiliki keuntungan dari lokasinya di kawasan Danau Como, salah satu destinasi wisata terkenal di Italia. Daya tarik tersebut ikut mendukung upaya klub membangun merek yang dikenal lebih luas secara internasional.

Bagi sepak bola Indonesia, keberhasilan Como menjadi cerita menarik karena menunjukkan bahwa pengusaha Indonesia dapat terlibat dalam proyek sepak bola Eropa yang berkembang hingga kompetisi tertinggi. Meski begitu, prestasi di lapangan tetap membutuhkan kerja sama antara manajemen, pelatih, dan para pemain. 

Lolos ke Liga Champions bukan berarti pekerjaan Como selesai. Justru, tantangan yang lebih berat menanti mereka.

Menghadapi klub-klub elite Eropa membutuhkan kedalaman skuad, konsistensi permainan, dan pengalaman menghadapi pertandingan berintensitas tinggi. Como juga harus membagi fokus antara kompetisi domestik dan Eropa.

Pada awal Liga Champions 2026/2027, Como langsung mencuri perhatian setelah mengalahkan RB Leipzig dengan skor 4-1. Hasil tersebut menjadi awal yang menjanjikan bagi klub yang baru pertama kali tampil di kompetisi elite tersebut. 

Ke depan, konsistensi akan menjadi ujian utama bagi Fabregas dan anak asuhnya. Mereka perlu membuktikan bahwa pencapaian musim lalu bukan sekadar kejutan sesaat.

Perjalanan Como 1907 memperlihatkan bahwa klub sepak bola dapat berkembang pesat ketika memiliki arah yang jelas dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Dari masa sulit hingga tampil di Liga Champions, Como melewati proses panjang yang melibatkan investasi, pembenahan organisasi, dan peningkatan kualitas permainan.

Kini, perhatian tertuju kepada Cesc Fabregas dan skuadnya. Mampukah Como mempertahankan performa sekaligus bersaing dengan klub-klub besar Eropa? Jawabannya akan terlihat dari konsistensi mereka sepanjang musim.

Popular

Indonesia Bantai Bangladesh 9-2, Mitchell Baker Cetak 5 Gol dan Garuda Lolos ke Final!

Persib Bandung Kalahkan Persik Kediri 1-0, Julio Cesar Jadi Penentu Kemenangan

Malaysia vs Singapura: Harimau Malaya Mengamuk, Unggul 2-0!